Komentar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

SMS Gratis Indonesia

Rabu, 30 November 2011

Ceramah bulan Muharram (Tahun Baru Islam)

buat cucun

silahkan download kemudian di cetak atau di edit dulu disesuaikan dengan kondisi hadirin/peserta yang hadir ya.

artikel dalam bentuk word silahkan dowload di sini


Ceramah bulan Muharram (Tahun Baru Islam)

Tahun Baru Islam
Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.A.

اَلْ
حَمْدُ ِللهِ رَبِّ الأزْمَانِ وَالآنَاءِ، فَلا ابْتِدَاءَ لوجوده ولا انتهاءَ، يستوي بعلمه السرُّ والخفاءُ، القائلِ: (وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا). أشهد أن لا الع إلا الله الكبير المُتَعَالِ، المُنَزَّهُ عن الشبيه والمِثال، الذي يسبِّح بحمده كلُّ شيء في الغُدُوِّ والآصال. وأشهد أن محمدا عبده رسوله الذي حذّرنا من دار الفتون، المُنْزَلُ عليه (إنك ميّتٌ وإنهم ميتون). اللهم صلي الله علي سيدنا محمد خاتم الأنبياء والمرسلين وعلي آله الطيبين وأصحابه الأخيار أجمعين. أما بعد.

Yang saya hormati para alim ulama, para asatidz, para hujjaj, para sesepuh kampung,
bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian....
Wabil khusus... Al-Alim... guru kita...
Wabil khusus... Bapak Walikota...
Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah...

Rasanya, ketika kita berbicara tentang hijrah, tentang Muharram, atau tentang tahun baru Islam, tidak ada sesuatu yang baru atau menarik bagi kita. Sekilas pandang, kita –seakan– merasa sudah terlalu pandai dalam mengenali bulan Islam yang satu ini. Benarkah demikian? Sudahkah khasanah keilmuan kita, sesuai dan memadai sebagai seorang muslim yang sejatinya mengenal dengan baik tentang bulan-bulan Islam.

Sejarah bulan Hijriah
Sejarah mencatat, manusia pertama yang berhasil mengkristalisir hijrah nabi sebagai event terpenting dalam penaggalan Islam adalah Sayidina Umar bin Al Khattab, ketika beliau menjabat sebagai Khalifah. Hal ini terjadi pada tahun ke-17 sejak Hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah.

Namun demikian, Sayidina Umar sendiri tidak ingin memaksakan pendapatnya kepada para sahabat nabi. Sebagaimana biasanya, beliau selalu memusyawarahkan setiap problematika umat kepada para sahabatnya. Masalah yang satu ini pun tak pelak dari diktum diatas. Karenanya, beberapa opsi pun bermunculan. Ada yang menginginkan, tapak tilas sistem penanggalan Islam berpijak pada tahun kelahiran Rasulullah. Ada juga yang mengusulkan, awal diresmikannya (dibangkitkannya) Muhammad Saw sebagai utusannyalah yang merupakan timing waktu paling tepat dalam standar kalenderisasi. Bahkan, ada pula yang melontarkan ide akan tahun wafatnya Rasulullah Saw, sebagai batas awal perhitungan tarikh dalam Islam.

Walaupun demikian, nampaknya Sayidina Umar r.a. lebih condong kepada pendapat –sayidina Ali karamallâhu wajhah-- yang meng-afdoliah-kan peristiwa hijrah sebagai tonggak terpenting ketimbang event-event lainnya dalam sejarah Islam, pada masalah yang satu ini. Relevan dengan klaim beliau: “Kita membuat penaggalan berdasar pada Hijrah Rasulullah Saw, adalah lebih karena hijrah tersebut merupakan pembeda antara yang hak dengan yang batil.

Dalam penulisan tahun Hijriah sendiri, biasa ditulis dengan karakter hurup (هـ) dalam bahasa Arab, atau (A.H.) singkatan dari Anno Hegirea (sesudah hijrah) untuk bahasa-bahasa Eropa. sedangkan untuk bahasa Indonesia biasa ditulis dengan (H.). Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 1 Muharam, bertepatan dengan 16 Juli 622 M, hari Jumat.

Yang Unik Dalam Hijriah
Nampaknya, ada sesuatu yang unik dalam kalenderisasi Islam ini. Ketika sejarah mengatakan, bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal –bukan pada bulan Muharram--, tapi mengapa pada dataran realita, pilihan jatuh pada bulan Muharram, bukan pada bulan Rabiul Awal, sebagai pinangan pertama bagi awal penanggalan Islam.

Memang, dalam peristiwa hijrah ini Nabi bertolak dari Mekah menuju Madinah pada hari Kamis terakhir dari bulan Safar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada awal bulan Rabiul Awal, tepatnya pada hari Senin tanggal 13 September 622.

Hanya saja, Sayidina Umar beserta sahabat-sahabatnya menginginkan bulan Muharram sebagai awal tahun hijriah. Ini lebih karena, beliau memandang di bulan Muharramlah Nabi berazam untuk berhijrah, padanya Rasulullah Saw selesai mengerjakan ibadah haji, juga dikarenakan dia termasuk salah satu dari empat bulan haram dalam Islam yang dilarang Allah untuk berperang di dalamnya. Sehingga Rasulullah pernah menamakannya dengan “Bulan Allah”. sebagaimana sabdanya: “Sebaik-baik puasa selain dari puasa Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah, yaitu bulan Muharram”. ( Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihya).

Ternyata keunikan awal Hijriah tidak hanya sampai di situ. Biasanya, pada hari kesepuluh dari bulan tersebut, sebagian orang dari kampung kita membuat makanan sejenis bubur yang dinamakan bubur Asyura, atau mungkin dalam bentuk lain semacam nasi tumpeng, maupun makanan lain sejenisnya, tergantung budaya masing-masing tempat dalam mengekspresikan rasa bahagianya terhadap hari Islam tersebut.

Sepertinya, yang menjadi unik bagi kita –sebagai kaum terpelajar– adalah tradisi bubur Asyura tersebut. Adakah hubungannya dengan Islam? Asyura itu sendiri terambil dari ucapan “`Asyarah”, yang berarti sepuluh. Hari Asyura, hari yang ke sepuluh dari bulan Muharram.

Islam memerintahkan umatnya untuk berpuasa sunah dan meluaskan perbelanjaan kepada keluarganya pada hari tersebut.

Kalau kita berupaya untuk menelusuri keterangan dari junjungan kita, Rasulullah Saw, dari hadits sahihnya kita dapati, bahwa ia adalah hari yang bersejarah bagi umat Yahudi, karena pada hari itulah Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s. serta para pengikutnya, disaat menenggelamkan Firaun.

Adapun tradisi bubur Asyura --berdasarkan riwayat dhaif--, karena pada hari itu Allah mengaruniakan nikmat yang besar kepada para nabi terdahulu, sejak zaman Nabi Adam As. hingga Nabi kita Muhammad Saw.

Konon, di hari Asyura ini, ketika Nabi Nuh As. dan para pengikutnya turun dari bahtera, mereka semuanya merasa lapar dan dahaga, sedangkan perbekalan masing-masing telah habis. Maka Nabi Nuh As. meminta masing-masing membawa satu genggam biji-bijian dari jenis apa saja yang ada pada mereka. Terkumpullah tujuh jenis biji-bijian, semuanya dicampurkan menjadi satu, lalu dimasak oleh beliau untuk dijadikan bubur. Berkat ide Nabi Nuh As., kenyanglah para pengikutnya pada hari itu. Dari cerita inilah, dikatakan sunat membuat bubur Asyura dari tujuh jenis biji-bijian untuk dihidangkan kepada fakir miskin pada hari itu.

Menurut hemat penulis, semua pada asalnya boleh-boleh saja, selagi tidak bertentangan dengan kaidah agama yang lain. Terlebih, di saat tradisi semacam ini mengandung nilai positif dan seiring (implisit) dengan ajaran Islam. Hanya saja, yang selalu ditekankan oleh junjungan kita, hendaknya manusia selalu mengenang dan mengingat hari ketika Allah menurunkan nikmat atau azab kepada manusia, agar kita semua dapat bersyukur, sadar dan insaf kepada-Nya. Mungkin sekedar inilah yang ditekankan Rasululullah Saw. berkenaan dengan hari Asyura tersebut.

Sebagaimana gejala lain terkadang kita dapati juga dari masyarakat kita –masyarakat Bekasi atau Betawi--, berkenaan dengan Muharram ini. Semacam tradisi atau bahkan keyakinan tentang tidak mau melangsungkan akad pernikahan di bulan ini. Fenomena semacam ini, apakah memang ada landasannya dalam Islam, atau hanya sekedar khurafat, bahkan mungkin karena kontaminasi dan pengaruh kultur Islam-Kejawen yang terkadang masih melekat dalam budaya Indonesia.

Muharram dalam perspektif Islam, merupakan salah satu dari empat bulan haram yang ada dalam Islam (Rajab, Zulka’dah, Zulhijjah dan Muharram). Dalam empat bulan ini, kita dilarang melancarkan peperangan kecuali dalam kondisi darurat yang tidak dapat kita elakan. Firman Allah Swt dalam surah At Taubah ayat 36: “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan (yang telah ditetapkan) di dalam kitab Allah ketika menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu adalah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya).

Berdasarkan ayat ini, segala aktifitas kebaikan tidak ada larangannya untuk dilakukan di bulan Muharram. Demikian juga dengan bulan Rajab, Zulka’dah dan Zulhijjah. Hanya maksiat dan kezaliman saja yang dilarang lebih keras oleh Allah Swt pada bulan-bulan tersebut. Adapun aktifitas positif --semacam pernikahan--, dalam perspektif Islam adalah satu aktifitas atau amalan kebajikan, bukan maksiat dan kezaliman. oleh karenanya, tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan acara perkawinan di bulan Muharram.

Namun saya lebih melihat, bahwa ketabuan semacam ini, --barangkali-- adalah sebagai pengaruh dari doktrin Syiah. Secara kebetulan, Sayidina Hussain terbunuh di Karbala pada bulan Muharram. Karenanya masyarakat Syiah memandang bulan Muharram sebagai bulan dukacita dan bulan berkabung. Maka mereka menghukumi haram untuk melangsungkan akad dan resepsi pernikahan, atau acara suka-ria lainnya di bulan itu. Pemahaman semacam ini tersebar luas ke negara-negara Islam dan akhirnya sampai ke negara kita (wallahu a’lam).

Mengingat bahwa kalender hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan yang berlawanan dengan rotasi matahari, maka mengakibatkan semua hari-hari besar Islam dapat terjadi pada musim-musim yang berbeda. Sebagai contoh, musim haji dan bulan puasa, bisa terjadi pada musim dingin atau pada musim panas. Dan yang perlu diingat, hari-hari besar Islam tidak akan terjadi persis dengan musim kejadiannya, kecuali sekali dalam 33 tahun.

Kita pun sering menemukan perbedaan di antara beberapa kalender hijriah yang dicetak, perbedaan tersebut terjadi dikarenakan:

Pertama, tidak ada standardisasi internasional tentang cara melihat anak bulan.
Kedua, penggunaan cara penghitungan dan proses melihat bulan yang berbeda.
Ketiga, keadaan cuaca dan peralatan yang dipakai dalam melihat anak bulan.

Dari sini, maka tidak akan ditemukan adanya program penanggalan hijriah yang 100 persen benar, sehingga proses melihat anak bulan (ru’yah) masih tetap relevan –meskipun sebenarnya dilematis-- dalam penentuan hari besar, seperti bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha.

Eksistensi Hijrah
Menginterpretasikan hijrah sebagai the founding of Islamic Community seperti dideskripsikan oleh Fazlur Rahman (guru besar kajian Islam di Universitas Chicago), sepenuhnya benar dan dapat dielaborasi dalam perspektif sejarah.

Hijrah menggambarkan perjuangan menyelamatkan akidah, penghargaan atas prestasi kerja, dan optimisme dalam meraih cita-cita. Itulah sebabnya, Fazlur Rahman menyebut peristiwa hijrah sebagai marks of the beginning of Islamic calender and the founding of Islamic Community. Sebagaimana klaim seorang profesor di bidang kultur Indo-Muslim Universitas Harvard, Annemarie Schimmael, menyebut hijrah sebagai tahun (periode) menandai dimulainya era muslim dan era baru menata komunitas muslim.

Kelahiran Piagam Madinah, yang oleh Montgomery Watt disebut sebagai Konstitusi Madinah dan konstitusi modern yang pertama di dunia, adalah proklamasi tentang terbentuknya suatu ummah.

Karena hijrah bukanlah pelarian akibat takut terhadap kematian, karena tidak mung-kin Rasulullah takut terhadap kematian. Sebab jika Rasulullah Saw mempertahankan eksistensi kaum muslimin di Makkah kala itu, ini akan menyulitkan kaum muslimin itu sendiri, yang waktu itu baru berjumlah 100-an orang. Rasulullah berhijrah setelah mempersiapkan kondisi psikologis dan sosiologis di kota Madinah dengan mengadakan perjanjian Aqabah I dan Aqabah II di musim haji.

Adapun dalam mengembangkan makna hijrah untuk menarik relevansi kekiniannya, jelas tidak harus menggunakan parameter sosiologis sejarah jaman Rasulullah. Karena menarik sosiologi sejarah menjadi kemestian yang harus dilalui itu merupakan kemuskilan. Karena Rasulullah telah tiada. Jadi memaknai makna hijrah saat ini adalah dengan menarik peristiwa itu sebagai ibrah (pelajaran).

Cita-cita dari hijrah Nabi Saw adalah untuk mewujudkan peradaban Islam yang kosmopolit dalam wujud masyarakat yang adil, humanis, egaliter, dan demokratis tercermin dalam keputusan Nabi mengganti nama Yastrib menjadi Madinah, atau Madinatul Munawarah (kota yang bercahaya), yaitu kota par exellence, tempat madaniyah atau tamadun, berperadaban.

Transformasi Kebijaksanaan Sejarah
Peristiwa hijrah ke Madinah atau yang saat ini kita peringati sebagai tahun baru Hijrah (1 Muharram 1419), adalah peristiwa yang di dalamnya tersimpan suatu kebijaksanaan sejarah (sunnatullah) agar kita senantiasa mengambil hikmah, meneladani, dan mentransformasikan nilai-nilai dan ajaran Rasulullah saw (sunnatur-rasul). Setidaknya ada tiga hal utama dari serangkaian peristiwa hijrah Rasulullah, yang agaknya amat penting untuk kita transformasikan bagi konteks kekinian.

Pertama, adalah transformasi keummatan. Bahwa nilai penting atau missi utama hijrah Rasulullah beserta kaum muslimin adalah untuk penyelamatan nasib kemanusiaan. Betapa serangkaian peristiwa hijrah itu, selalu didahului oleh fenomena penindasan dan kekejaman oleh orang-orang kaya atau penguasa terhadap rakyat kecil. Pada spektrum ini, orientasi keummatan mengadakan suatu transformasi ekonomi dan politik.

Kebijaksanaan hijrah, sebagai sunnatullah dan sunnatur-rasul, di mana masyarakat mengalami ketertindasan, adalah merupakan suatu kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an, orang yang mampu hijrah tetapi tidak melaksanakannya disebut sebagai orang yang menganiaya dirinya sendiri (zhalim). sebab luasnya bumi dan melimpahnya rezeki di atasnya, pada dasarnya memang disediakan oleh Allah untuk keperluan manusia. Karena itulah, jika manusia atau masyarakat mengalami ketertindasan, Allah mewajibkan mereka untuk hijrah (QS 4: 97-100).

Tujuan dari hijrah, dalam visi al-Qur'an itu, agar manusia dapat mengenyam 'kebebasan'. Jadi tidak semata-mata perpindahan fisik dari satu daerah ke satu daerah lain, apalagi hanya sekadar untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan politik belaka, melainkan lebih dari itu melibatkan hijrah mental-spiritual, sehingga mereka memperoleh 'kesadaran baru' bagi keutuhan martabatnya. Hijrah Nabi ke Madinah, telah terbukti mampu mewujudkan suatu kepemimpinan yang di dalamnya berlangsung tatanan masyarakat berdasarkan moral utama (makarimal akhlaq), suasana tentram penuh persaudaraan dalam pluralitas (ukhuwah) dan pengedepanan misi penyejahteraaan rakyat (al-maslahatu al-ra'iyah).

Kedua, adalah transformasi kebudayaan. Hijrah dalam konteks ini telah mengentaskan masyarakat dari kebudayaan jahili menuju kebudayaan Islami. Jika sebelum hijrah, kebebasan masyarakat dipasung oleh struktur budaya feodal, otoritarian dan destruktif-permissifistik, maka setelah hijrah hak-hak asasi mereka dijamin secara perundang-undangan (syari'ah). Pelanggaran terhadap syari'ah bagi seorang muslim, pada dasarnya tidak lain adalah penyangkalan terhadap keimanan atau keislamannya sendiri. Bahkan lebih dari itu, pelanggaran terhadap hak-hak aasasi yang telah dilindungi dan diatur dalam Islam, akan dikenai hukum yang tujuannya untuk mengembalikan keutuhan moral mereka dan martabat manusia secara universal.

Nilai transformatif kebudayaan berasal dari ajaran hijrah Rasulullah, dengan demikian pada dasarnya ditujukan untuk mengembalikan keutuhan moral dan martabat kemanusiaan secara universal (rahmatan lil-'alamiin). Mengenai apa saja martabat kemanusiaan atau hak-hak asasi --yang merupakan pundamen utama suatu kebudayaan-- yang dilindungi Islam, al-Qur'an telah menggariskan pokok-pokoknya seperti perlindungan fisik individu dan masyarakat dari tindakan badani di luar hukum, perlindungan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk berpindah agama, perlindungan keluarga dan keturunan, perlindungan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, perlindungan untuk menyatakan pendapat dan berserikat dan perlindungan untuk mendapatkan persamaan derajat dan kemerdekaan.

Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah, yang dalam konteks hijrah, dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan persaudaraan kaum Muslimin dengan kaum Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya adalah basis utama dari misi (kerisalahan) yang diemban Rasulullah. Dari sejarah kita mengetahui, bahwasanya yang pertama menunjukkan 'tanda-tanda kerasulan' pada diri Nabi, adalah seorang pendeta Nasrani yang bertemu tatkala Nabi dan pamannya Abu Thalib berdagang ke Syria. Kemudian pada hijrah pertama dan kedua (ke Abesinia), kaum muslimin ditolong oleh raja Najasy. Dan pada saat membangun kepemimpinan Madinah, kaum muslimin bersama kaum Yahudi dan Nasrani, bahu-membahu dalam ikatan persaudaraan dan perjanjian. Karena itulah, pada masa kepemimpinan Nabi dan sahabat, Islam secara tertulis mengeluarkan undang-undang yang melindungi kaum Nasrani dan Yahudi. Wallahu ‘l hâdi ilâ sabîlirrasyâd!

Menyongsong Tahun Baru Hijriyah
"Dan katakanlah! Beramallah maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS: At-Taubah:105)

Tidak terasa umur kita bertambah satu tahun lagi. Itu berarti jatah hidup kita berkurang dan semakin mendekatkan kita kepada rumah masa depan, kuburan. Pelajaran yang terbaik dari perjalanan waktu ini adalah menyadari sekaligus mengintrospeksi sepak terjang kita selama ini. Kita punya lima hari yang harus kita isi dengan amal baik. Hari pertama, yaitu masa lalu yang telah kita lewati apakah sudah kita isi dengan hal-hal yang dapat memperoleh ridho Allah? Hari kedua, yaitu hari yang sedang kita alami sekarang ini, harus kita gunakan untuk yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat. Hari ketiga, hari yang akan datang, kita tidak tahu apakah itu milik kita atau bukan. Hari keempat, yaitu hari kita ditarik oleh malaikat pencabut nyawa menyudahi kehidupan yang fana ini, apakah kita sudah siap dengan amal kita? Hari kelima, yaitu hari perhitungan yang tiada arti lagi nilai kerja atau amal, apakah kita mendapatkan rapor yang baik, dimana tempatnya adalah surga, atau mendapat rapor dengan tangan kiri kita, yang menunjukan nilai buruk tempatnya di neraka. Pada saat itu tidak ada lagi arti penyesalan. Benar sekali kata seorang ulama besar Tabi'in, bernama Hasan Al-Basri, "Wahai manusia sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari, setiap hari berkurang, berarti berkurang pula bagaianmu." Umar bin Khatab berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab." Wallahu a'lam bishshowab...
Saya akhiri,
Billahi taufik wal hidayah.... Hadanallahu wa'iyyakum ajma'in... akhiran... aqulu lakum...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sabtu, 12 November 2011

PENTINGNYA MENTORING


PENTINGNYA MENTORING
by : Ismail Dahsyat

sutu ketika ada seorang murid yang merasa hidupnya penuh masalah, sehingga dia merasa hidupnya frustasi sempit dan terhimpit masalah yang besar

karena dia ingin mencari solusi atas permasalahannya dia mendatangi ustadnya, dan mencurahkan isi hatinya alias curhat

murid : ustad, hidup saya penuh masalah...tolong saya ustad...
ustad : hmmm (tersenyum manis) :) oooh begitu... yowis mau ga diberi solusi atas masalahmu..

murid : tentu mau ustaad...
ustad : kalau begitu tunggu sebentar ...

sang ustad mengambil sekantong plastik Garam dapur dan air putih hangat dihidangkan diatas meja...

murid : apa ini ustad...?
ustad : kalau kamu pengen dapet solusi dari masalahmu, coba kamu masukkan segenggam garam ke gelas itu..lalu aduklah hingga melarut, kemudian minumlah...

kemudian sang murid melakukannya tanpa komentar sambil merasa aneh, tapi karena ingin mendapatkan solusi atas permasalahannya dia lakukan saja perintah ustad tadi

diaduklah garam kedalam segelas air.."klining-klining...klining-klining.." terdengar suara adukkan sendok menyentuh sisi-sisi gelas...

setelah itu sang murid meminumnya... Glek-glek ..glek..... PPPPueh..Pueh pueh..."asin..asin pait pa ustad.." sambil memuntahkannya...

"hmmmm..." kata pa ustad, "kalau begitu ayo ikut saya jalan-jalan ke belakang rumahku...

kebetulan dibelakang rumah pa ustad ada telaga atau danau yang bening adem dan luas..

"coba kamu masukkan sekantong garam itu ke danau ini..." perintah ustad kepada murid
"setelah itu kamu aduk-aduk air danaunya..." lanjut perinah utad, "setelah itu coba aku icipan air danau ini.." perintah ustad lagi kepada muridnya

kemudian sang murid mengambil air dengan kedua tanganya dan mulai menyeruput airnya... srupuuuut... glek glek glek..

"hmmm Waaaaaaaaah nyeesss adem ustad rasa airnya... tidak asin" kata sang murid setelah minum air

Ustad : "Nah... begitulah Nak, jika hatimu sempit sedikit masalah akan menghimpitmu, TETAPI jika hatimu luas maka sebesar apapun masalah yang datang akan terasa seperti biasa saja, Luaskan senantiasa hatimu.."


Sahabat-sahabat betapa sangat pentingnya kita mengaji, bukan sekedar ritual membaca alquar'an tetapi mengkaji ayat-ayat Nya, karena akan mensucikan jiwa, dan mengajarkan pedoman hidup (minhajul hayah) selamat agama-dunia-akhirat, semua itu akan kita temui dalam sebuah kegiatan MENTORING.

tidak hanya itu, pautut berbangga dan bersyukur jika kita sudah tergabung dalam kegiatan mentoring ini karena MENTORING dalam islam (Halaqoh) atau Liqoat adalah WARISAN sang Rasulalloh SAW, sejak beliau dinobatkan menjadbi Rasul oleh Allah SWT 14 abad yang lalu hingga sekarang masih terawat dengan baik.

untuk lebih menguatkan berikut saya berbagi materi PENTINGNYA MENTORING dalam bentuk Slide Power Point yang biasa saya gunakan ngisi Training di berbagai Lemabaga

Silahkan di unduh / download disini atau pada link dibawah ini mudah-mudahan bermanfaat :


"Alhaqqu mirrobbikum ; kebenaran itu dari Tuhanmu"
maka sebaik-baik penyimak adalah yg paling bisa mengamalkan dan menyampaikannya lagi

salam dahsyat :)







Selasa, 08 November 2011

Sakit Mataku, Kasih Sayang Istriku


mimi yati ya selalau membawa perlengkapan dede inu hehe… dan ibu bapaknya juga..
Dengan sabarnya saya mengendarai motor dengan muatan yangvpadat dan jalan yang rusak, dah gitu mata berair, gatel lenket dan pandangan agak kabur, berkacamata, dilapis kaca helm…hmmm astagfirulloh hal ‘adziim..hanya itu yang bias keluhkan kepada sang maha pengampun.. dari desa saya pabean ilir lewat jalan desa brondong terus pasekan dari jembatan pagirikan belok kanan lewat desa penganjang yang berliku-liku tapi lumayan enak lancer jalannya, akhirnya kami mampir dulu ke BMT El JPMI Sindang untuk narik tabungan karena besok mau ke Rumah sakit periksa mata, nariknya Cuma 100rb alhmadulillah punya tabungan… hehehe.. :)

Setalah itu kamilanjutkan pulang ke outlet mata dah gatel dan lengket, sampai di outle langsung ke kamar mandi membasuh mata… setelah itu langsung tiduran… hhhhhhmmmm meluruskan badan, baru sebentar terdengar panggilan Allah suara adzan dzuhur.. setelah solat dzuhur tidur lagi bangun ashar dan kami makan semangkok baso barengan sama istri kemudian kamimembuka laptop untuk online-online… sepulang dari sholat isya saya ijin tidak masuk liqo mataku belum bias diajak naik motor.. hmmm rugi sebenarnya mah…. :)

Saya mau tutup malam ini dengan sholat qiyamullail plus witir dan tilawah… mudah-mudahan mataku besok mendingan cepet sembuh.. amin

Agenda Besok apa ya…?
• Besok pagi-pagi mau jalan-jalan kaki di pinggir jalan sama dede inu dan uminya
• Sehabis sarapan mau periksa ke RSUD Indramayu kalau matanya enggak mendingan.. (mudah-mudahan mendingan)
• Cek barang – display
• Buat bisnis plan, Cari tukang cat
• Lahaula walakuwwaata illabillah :)

Ibroh; Pelajaran/hikmah yang dapat diambil
Pertama, jangan gunakan sembarang obat dalam mengobati penyakit salah-salah malah semakin parah :)
Kedua, perhatian keluarga sangat penting lebih dari sekedar obat.. istriku ailapyuh… makasih ya sayang atas segala kesabaran dan perhatiannya dalam mengurusi suamimu ini yang karepe dewek hehe :)
Ketiga, tetep sabar mungkin hari ini saya ga bias kerumah sakit;telat mungkin ini yang tebaik

Minggu, 31 Oktober 2010

Bangkit dari tidurmu Lalu Wujudkan MimpiMU


"Mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari" (hasan albanna)
sudah saatnya apa yg kita ketahui, kita pelajari, kita dapatkan dan kita pahami untuk kita amalkan, Maka BEKERJALAH-BEKERJALAH dan BEKERJALAH...
"bekerjalah kalian maka Allah, rosulNya dan orang-orang yang beriman akan melihatmu"

Jumat, 09 Juli 2010

Menggapai Hidup Berkah

MENGGAPAI HIDUP BERKAH

Sekira penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi tapi mereka mendustakan itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Mengapa uang yg banyak rumah yg besar istri yg jelita atau suami yg tampan ilmu yg luas tak mengangkat derajat pemiliknya? Malah menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yg diperoleh melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? sebenar penyebab sederhana sekali yakni bahwa semua itu tak barokah
Selengkapnya download disini

Selasa, 06 Juli 2010

Bagaimana Seorang BERPIKIR?

Bismillahirrohanirrohim
Bagaimana Seorang BERPIKIR?
silahkan download disini

Minggu, 16 Agustus 2009

Mengisi kemerdekaan dengan ilmu




MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN ILMU

(Berikut ini saya dapatkan artikel tentang cara mengisi kemerdekaan mungkin dari malaysia, tapi yang terpenting adalah manfaatnya)



MAJLIS-majlis konvokesyen sedang rancak dijalankan di seluruh negara untuk meraikan kejayaan pelajar menamatkan pelajaran di peringkat universiti atau kolej. Berita-berita kejayaan disiarkan dengan harapan dapat membakar semangat para pelajar dan graduan untuk terus memajukan diri.

Persoalannya, adakah proses pembelajaran akan terhenti setakat itu sahaja? Apakah para remaja sedar bahawa ilmu sangat penting bukan sahaja untuk diri mereka sendiri malah dalam mengisi kemerdekaan negara?

Asas Kepentingan Ilmu

Islam menuntut penganutnya supaya berilmu. Turunnya wahyu yang pertama kepada Rasulullah s.a.w mengajak manusia untuk membaca, terus mencari ilmu serta tidak lupa kepada Pencipta yang menciptakan supaya manusia sentiasa bersikap reflektif terhadap kejadian dirinya. (al-Alaq: 1-5). Ilmu adalah penyuluh daripada kegelapan, merdekakan diri daripada apa-apa penjajahan yang membelenggu dan suatu bentuk pertahanan diri dan negara daripada penindasan pihak lain.

Pentingnya ilmu pengetahuan selain daripada suatu bentuk nikmat dan rahmat Allah s.w.t. kepada hamba-hamba-Nya, ialah ia memberi asas kepada terbentuknya sistem diri, keluarga dan masyarakat.

Tanpa ilmu, masyarakat menjadi pincang dan tidak bersistem. Urusan-urusan sosial, ekonomi dan pembangunan sahsiah misalnya, tidak akan dapat diuruskan dengan baik tanpa adanya suatu sistem yang menguruskannya. Maka ilmu menjadi nadi kepada sistem-sistem ini. Menguruskan nikmat-nikmat Tuhan di muka bumi ini bukan sahaja memerlukan ilmu yang dipelajari daripada buku-buku di sekolah dan di universiti tetapi juga memerlukan nilai-nilai yang positif dan baik yang dapat memandu sistem ke arah yang benar dan tidak lari daripada norma-norma agama dan budaya.

Mengurus Ilmu Pengetahuan

* Mengurus amanah yang diberikan dengan baik.

Para remaja harus sedar bahawa menggenggam ijazah bukan sahaja tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, ia juga amanah untuk memajukan diri, keluarga, negara dan umat. Sebagai seorang Muslim, menguruskan pekerjaan yang diberi membawa imej agama Islam itu sendiri.

Setiap pekerja haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya, ikhlas dan tidak melanggar prinsip-prinsip agama, undang-undang dan moral. Apabila amanah dapat diuruskan dengan baik, maka produktiviti akan meningkat dan nikmat kemerdekaan negara dapat diuruskan dengan teratur dan lancar.

* ‘Life-long Learning Process’.

Bagi lepasan universiti atau sekolah, sikap untuk terus belajar haruslah sentiasa ada walau dalam bentuk apa pun. Pekerjaan yang kita lakukan juga menuntut kita untuk sentiasa belajar dan mempertingkatkan kemahiran diri.

Mengaplikasikan apa yang dipelajari di kelas adalah satu bonus tetapi kebanyakan permasalahan memerlukan kita belajar sendiri dan berusaha untuk mengatasinya. Maka remaja seharusnya sentiasa berusaha untuk terus mempertingkatkan diri dan tidak berada selama-lamanya dalam ‘zon selesa’.

* Menggunakan ilmu untuk mempertahankan yang baik dan menolak kemungkaran.

Para remaja harus sedar bahawa ilmu yang baik itu adalah yang memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain asalkan tidak mengganggu hak-hak orang lain. Ilmu yang baik juga harus dilaksanakan dengan cara yang baik dan tidak menyalahi batas-batas syariah dan undang-undang.

Para remaja harus berilmu untuk membezakan antara yang hak dan yang mungkar serta tidak menyanggupi apa-apa yang salah dan batil di tengah-tengah cabaran globalisasi dan budaya-budaya yang mengelirukan.

* Berusaha Mengajar Orang Lain Tentang Kepentingan Ilmu

Ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak seharusnya disimpan sendiri tanpa orang lain mempelajarinya. Langkah mengajarkan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat adalah perbuatan yang sangat mulia, malah membantu orang lain untuk memerdekakan diri daripada apa yang tidak diketahuinya.

Bak kata pepatah Cina: ‘Berikan seseorang seekor ikan, maka anda memberikannya makanan untuk ketika itu. Ajarkan seseorang menangkap ikan, maka anda membantunya mencari makanan sepanjang hidupnya.’

* Mengenal Diri dan Pencipta

Ilmu juga seharusnya mendekatkan diri kita kepada Allah s.w.t. Ilmu membawa kita ke fitrah iaitu menginsafi kejadian diri dan menyedari akan amanah yang Allah letakkan pada kita sebagai khalifah di muka bumi. Ilmu juga membawa kepada asas keimanan dan ketakwaan dalam diri kita. Oleh itu, ilmu seharusnya membawa kita hampir kepada Pencipta alam ini dan seluruh isinya.

Kesimpulan

Mengisi kemerdekaan bukanlah sesuatu yang mudah namun kita haruslah berusaha untuk mempertingkatkan diri bagi mengangkat martabat diri, keluarga, agama dan negara. Ilmu yang baik dan bermanfaat membawa kepada kebahagiaan dan kesejahteraan yang sejati.

Pencapaian diri dan pengisian negara akan menjadi lebih bermakna apabila warganya berilmu pengetahuan dan hidup di dalam sistem yang benar dan teratur. Apatah lagi dengan hari kemerdekaan yang akan disambut esok, dan menjelangnya bulan Ramadan yang mulia ini, maka ayuh para remaja sekalian, kita tingkatkan ilmu pengetahuan dan tanamkan azam untuk terus memajukan negara Malaysia yang tercinta ini.

* NURUL IZZAH SIDEK ialah graduan kejuruteraan Komunikasi, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Gombak, Kuala Lumpur.